Memori Air
Berapa banyak yang setuju bahwa air, entah air laut atau air hujan, selalu membawa sebuah kenangan? Kenangan sedih, senang, marah, bahkan kenangan yang sangat biasa sekali pun. Jika hujan selalu mendominasi saat kita berbicara memori, berbeda untuk kali ini.
Saya tak akan berbicara tentang hujan sebab ia sementara. Jika hujan itu konsep, maka air adalah substansinya. Berat ya? Ah berat mana dengan beban hidupmu? Percayakah bahwa memori air hinggap di kehidupan banyak orang? Saya yakin, hampir 99% manusia pernah memiliki memori air.
Memori air bukan tentang bagaimana air mengenai diri kita secara langsung tapi peristiwa yang terjadi entah karena atau terdapat air di dalamnya. Saya mau tanya, siapa saja yang pernah menjadikan
Memori air saya yang terakhir, selain untuk minum dan mandi, adalah air hujan dan laut di Pantai Anyer. Seseorang begitu marah ketika sampai di Pantai Anyer dan hujan turun cukup lebat di daerah pabrik. Ia berkata bahwa terakhir kali ia ke Anyer, hujan juga turun cukup deras sehingga tidak bisa leluasa melihat laut biru. Begitu juga hari itu, untungnya hujan hanya turun sebentar. Sebentar saja karena sesampainya di Pantai Karang Bolong, matahari menampakan cahayanya.
Sampai di bagian pantai, hujan mereda hingga berhenti sama sekali. Suara laut menyapa kami, senang. Saya yang senang, mungkin juga dia, saya tak tahu waktu itu. Kami menaiki sebuah tangga yang sepertinya sengaja dibuat di atas karang bolong. Sesampainya di puincak karang bolong, hamparan laut luas dengan semburat matahari di tengahnya seperti menyapa kami. Ah, sudah lama tak melihat hamparan laut yang biru dan suara ombak yang merdu.
Tidak berhenti sampai di situ. Kami berpindah ke pantai yang lebih datar supaya saya bisa merasakan air laut di kaki saya. Ia hanya duduk di pendopo seorang diri, entah melihat atau memikirkan apa, saya tak mau tahu. Saya hanya sempat bertanya mengapa ia menyukai laut? Ia berkata bahwa suara ombak itu merdu, sesekali riuh lalu kembali tenang. Kataku, kau itu ombak, terlihat tenang tapi riuh, riuh yang tak bisa dilihat tapi bisa rasakan. Ah senang bercerita saat itu, cerita yang mungkin tidak dapat terulang tapi akan selalu dikenang.
Cerita di atas hanya sepenggal memori yang air tinggalkan kepada saya. Air sudah meninggalkan memorinya sejak beberapa tahun yang lalu, mulai dari cerita tentang Pangandaran, tenggelam di kolam renang, hujan syahdu di berbagai kondisi, terjebak banjir, dan memori yang saya akan ingat kembali.
Semoga akan ada lagi memori-memori yang air bawa kepada umatnya.
Comments
Post a Comment