Jejak Buku dan Membaca
Perihal membaca saya yakin semua orang pasti melakukannya setiap hari. Mulai dari membaca pesan, berita jujur dan bohong, laporan, gosip yang berkeliaran di media sosial, sampai gerak tubuh seseorang.
Buku sudah menjadi bagian dari hidup saya. Buku (atau bukan) pertama yang diberikan kepada saya adalah Alkitab anak-anak. Alkitab itu cukup besar, kira-kira seukuran kertas A4. Isinya sudah pasti berupa bab, judul, dan ayat-ayat kitab suci Katolik pada umumnya dan ilustrasi kejadian-kejadian pada bab atau ayat tertentu. Saya belum bisa membaca, saya hanya senang ada buku yang bergambar. Kesenangan itu agaknya membuat saya lewat batas karena (seingat saya) ada beberapa halaman yang saya sobek-sobek entah mengapa, mungkin saya sedang kesetanan, dan wajah-wajah murid Yesus saya coret-coret. Jika Ia maha melihat, bisa jadi marah atau malah tertawa melihat riasan saya di wajah mereka.
Setelah diajarkan membaca, saya membuka kembali Alkitab yang sudah compang camping dan mulai membaca setiap kalimatnya. Belum sempurna tapi saya puas akhirnya saya bisa membaca tulisan yang ada di Alkitab tersebut. Ketertarikan saya dengan buku dan membaca mungkin terlihat oleh orang tua saya, terlebih oleh Mama. Sejak itu, orang tua saya banyak membelikan buku dongeng mulai dari serial Franklin, dongeng rakyat Indonesia, sampai berlangganan majalah Bobo. Masa-masa sekolah dasar yang membawa saya kepada bacaan-bacaan yang selanjutnya.
Beranjak remaja, membaca novel sehari suntuk adalah kegiatan wajib di hari Sabtu dan Minggu. Saya tak punya gawai canggih pun media sosial yang saat itu berkembang juga tak sepenuhnya saya ikuti karena aktivitas media sosial dan gawai saya terbatas hanya dilakukan di gawai milik Mama. Memori tentang buku dan membaca yang paling melekat adalah membeli 6 novel dengan total pembayaran Rp600.000 dari hasil menabung uang jajan selama duduk di kelas 9. Saya nekat naik angkot sendiri (waktu itu belum punya pengalaman naik kendaraan umum sendirian), ke toko buku yang cukup terkenal di sebuah pusat perbelanjaan, dan puas menenteng satu plastik besar berisi novel.
Memori buku dan membaca ini terus berlanjut sampai ke SMA, tepatnya kelas 11. Sebelum berlanjut, saya mau memberikan peringatan keras bagi Anda yang membaca tulisan ini dan sedang duduk di bangku sekolah, jangan ditiru karena berefek buruk. Hampir setiap hari dan setiap jam pelajaran tak ada hari tanpa membaca buku. Seringkali satu novel bisa habis dalam satu hari saking bosannya pelajaran hari itu. Sekali lagi, jangan ditiru. Saya hampir mengambil paket C karena kebiasaan membaca semacam ini.
Saya mohon maaf kepada Bapak/Ibu guru yang pernah mengajar saya, sumpah bukan karena pelajarannya tidak penting, memang anaknya saja yang badung.
Perjalanan ini akhirnya sampai pada keputusan saya untuk mendaftar di program studi Sastra Indonesia. Pendaftaran yang spontan dan tak pakai pikir panjang. Kepercayaan diri, yang hanya bermodal "suka baca novel", membuat saya percaya bahwa saya akan menyukai Sastra Indonesia. Kenyataannya? Saya jatuh cinta. Paling tidak untuk saat itu sampai sekarang. Pengalaman belajar selama 4 tahun di program studi tersebut membuat saya menyukai kegiatan belajar dan ingin tahu lebih banyak lagi. Kalau tidak menemukan kesulitan, saya bohong, pasti ada tapi kesulitannya akan saya ceritakan nanti. Bukannya semua orang suka akhir yang bahagia?
Comments
Post a Comment