Kepada Tuan Puan yang Sedang Singgah


Capek. Hari ini saya sudah mendengar kata ini dari orang-orang yang saya pikir kuat. Nyatanya, orang kuat tidak selalu kuat. Orang yang selalu menampilkan senyum juga punya luka. Orang yang tak pernah tertawa ternyata punya trauma. Hari ini saya belajar satu kata lagi.




Saya pikir kata capek ini tak pernah punya daya. Capek yang sekadar kata yang memiliki arti lain lelah dan letih (KBBI daring). Kata ini juga sering terlontar pada candaan-candaan saya dengan teman-teman, "duh capek sekolah, pengen nikah aja," kata saya (atau salah satu teman saya) beberapa waktu silam saat kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Tidak sampai di situ, candaan itu ternyata terus berlanjut hingga saya kuliah, "duh capek banget gak punya duit, mau cari sugar daddy aja," kata saya yang masih ragu apakah saya bisa dan mau berkomitmen atau tidak. Kata "capek" pernah dan sering saya remehkan beberapa waktu lalu.

Berdasarkan apa yang saya ceritakan, kata capek ini agaknya tidak berdaya di mata saya, berbeda dengan beberapa orang yang saya ajak bicara hari ini. Kata ini ternyata punya makna psikologis yang cukup mendalam bagi siapa saja yang sudah benar-benar lelah. Kepada saya, mereka mengatakan bahwa mereka capek dengan apa yang sedang mereka jalani dan hadapi. Bisa dikatakan bahwa kata capek ini it's a whole thing. Setelah sekian cara, pikiran, peristiwa atau apapun yang dihadapi, kata ini akhirnya muncul sebagai representasi kondisi psikologis seseorang yang sedang tidak baik-baik saja. Bahasa begitu kompleks bukan?  

Saya tidak akan berbicara tentang kondisi psikologis seseorang yang sedang lelah dari sudut pandang psikologi, saya tidak banyak tahu karena saya belum mendalami bidang tersebut. Saya seperti flash back saat saya mengerjakan skripsi tentang maksud pada sebuah wacana meme tulisan. Kita belajar sedikit ya, atau lebih tepatnya saya mau mengulang kembali untuk menyamakan persepsi. Tuturan atau ujaran yang kita ucapkan memiliki tiga komponen, yaitu informasi, makna, dan maksud. Verhaar (dalam Baryadi, 2012:14) membedakan maksud dengan informasi dan makna. Setiap tuturan atau kalimat yang diucapkan atau ditulis mengandung ketiga hal itu. Informasi dan makna merupakan dua hal yang dapat ditangkap langsung oleh pendengar atau pembaca. Sebuah tuturan dapat mengandung informasi dan maksud yang sama tapi juga dapat mengandung dua hal yang berbeda. Maksud sangat bergantung pada konteks. Jika konteks berubah maka maksud yang disampaikan juga ikut berubah. Berbeda dengan makna dan informasi yang tidak bergantung pada konteks (Baryadi 2012: 16).

Pengetahuan tersebut yang membuat saya kembali berpikir dan harusnya memahami bahwa pada setiap kata yang diucapkan punya maksud bahkan daya dalam mempengaruhi sesesorang. Hari ini saya belajar lagi, belajar memahami seseorang dari kata-kata yang diucapkannya. Jujur, saya masih mencari kata-kata yang tepat untuk membalas kata tersebut, ada beberapa hal dari bidang lain yang perlu saya pelajari hingga mengetahui kata-kata balasannya. Namun, hal itu tidak menutup diri saya mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah atau kebahagiaan seseorang. Saya tahu tak semua orang butuh balasan.

Kepada siapa saja yang membaca tulisan ini, saya tidak bisa menjanjikan bahwa dunia akan baik-baik saja padamu, ia mungkin akan menggilas dan menertawakanmu sekali lagi. Jika dunia lagi-lagi berulah, berikan diri untuk menulis barang satu kalimat. Tulis apa saja yang jadi kegelisahan, permasalahan, kebaikan, kegembiraanmu hari ini. Jika menulis, memancing, berbelanja, pergi ke pantai, atau berbicara pada peliharaanmu tak bisa membantu, saya yakin ada jalur medis yang bisa kamu tempuh. Hanya kamu yang paling tahu tentang dirimu.

 

Sabar sebentar, masih ada yang ingin berbicara denganmu di malam-malam yang panjang dan segelas cokelat hangat.


Comments

Popular posts from this blog

Kembali Menulis (atau Menangis)

Semoga Masih Ada Esok

Perjalanan Ala-ala yang Semoga Tidak Halah